
Pernahkah Anda merasa sangat mengenal seseorang hanya karena sering berada di dekatnya? Kita sering terjebak dalam sebuah ilusi. Kita mengira kedekatan fisik berarti keakraban batin. Hal sama terjadi saat kita merasa mengenal Yesus.
Kita menyangka informasi yang melimpah adalah sebuah pengenalan yang dalam. Namun, kisah perjalanan ke Emaus dalam Lukas 24:13-27 mengajarkan sesuatu yang sangat kontras.
Dua orang murid berjalan menuju Emaus. Jaraknya kira-kira tujuh mil dari Yerusalem. Mereka berjalan dengan hati yang sangat berat. Sepanjang jalan, mereka membicarakan peristiwa yang baru saja terjadi. Yesus, Guru mereka, telah mati disalibkan. Mereka juga mendengar kabar tentang kubur yang kosong.
Tiba-tiba, Yesus datang menghampiri mereka. Ia berjalan bersama mereka. Ia bertanya tentang apa yang mereka bicarakan. Anehnya, mereka tidak mengenali Yesus. Padahal, mereka sudah bersama-sama dengan-Nya selama tiga tahun. Mereka mendengar pengajaran-Nya setiap hari. Mereka melihat mukjizat-Nya dengan mata kepala sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang yang begitu dekat bisa menjadi begitu asing?
Berjalan Bersama, Namun Hidup dalam Dunia Sendiri
Masalahnya bukan pada mata fisik mereka. Masalahnya ada pada cara mereka memandang Yesus. Selama tiga tahun, para murid membangun sebuah narasi. Mereka memiliki "proyeksi" sendiri tentang siapa Yesus seharusnya. Bagi mereka, Yesus adalah pahlawan politik. Ia adalah Mesias yang akan menggulingkan kekuasaan Romawi.
Dalam benak mereka, mengikut Yesus adalah investasi politik. Para murid membayangkan jabatan tinggi dalam kerajaan yang baru. Sesama mereka bahkan sempat bertengkar tentang siapa yang paling hebat. Murid-murid fokus pada apa yang akan didapatkan, menginginkan kekuasaan, kenyamanan, dan kebebasan dari penderitaan.

Yesus sering memperingatkan mereka. Ia berbicara tentang penderitaan dan salib. Namun, para murid tidak mau mendengar itu. Mereka menyaring kata-kata Yesus, hanya mengambil bagian yang sesuai dengan selera mereka. Akhirnya, ketika Yesus benar-benar menderita dan mati, seluruh dunia mereka hancur.
Yesus tidak menjadi seperti yang mereka harapkan, sehingga Murid-Nya kehilangan kemampuan untuk mengenali-Nya. Bahkan ketika Yesus berjalan di samping mereka, Ia tetap menjadi orang asing. Harapan pribadi telah menjadi tembok yang sangat tebal. Motivasi yang salah telah menjadi kabut yang sangat pekat.
Dekat Tanpa Kenal
Murid-murid yang berjalan ke Emaus adalah cermin bagi kekristenan masa kini. Saat kita merasa mengenal Yesus, karena aktivitas gereja, jabatan rohani, atau tradisi teologis. Pendeta, majelis, dosen, aktivis gereja, semua merasa telah sungguh mengenal Yesus. Namun kedekatan itu bisa palsu. Kedekatan itu bisa hanya ilusi.
Teologi pastoral mengingatkan bahwa iman bukan sekadar kedekatan institusional. Mengenal Yesus berarti membiarkan diri ditransformasi oleh kasih-Nya. Tanpa transformasi, kedekatan itu kosong.
Kenal Tanpa Dekat
Ada pula yang merasa mengenal Yesus melalui pengetahuan teologis. Mereka membaca kitab, mengajar di kelas. Namun pengenalan itu bisa kering jika tidak disertai kedekatan hati. Teologi tanpa relasi bisa menjadi sekadar teori.
Yesus tidak dikenal hanya melalui konsep. Ia dikenal melalui perjumpaan. Perjumpaan itu membakar hati, membuka mata, mengubah hidup.
Bahaya Menjadi "Orang Dalam"
Mari kita bawa kisah ini ke dalam hidup kekristenan. Kita sering merasa sangat aman karena berada di "lingkungan Yesus". Sering merasa paling benar karena aktif di gereja. Kita merasa hebat karena mengemban jabatan di gereja, sinode, atau mungkin merasa pintar karena lulus dari sekolah teologi terbaik.
Posisi organisatoris dijadikan bukti pengenalan akan Tuhan. Apakah Anda seorang pendeta? Ataukah Anda seorang aktivis gereja yang sangat sibuk? Jabatan itu sama sekali bukan jaminan bahwa Anda sungguh mengenal Yesus.
Seseorang bisa saja fasih berbicara tentang kasih, mahir mengutip ayat-ayat Alkitab. Pengkotbah sanggup membuat khotbah yang memukau ribuan orang. Namun, bisa jadi sebenarnya sedang berbicara tentang Yesus yang palsu, "Yesus" hasil bentukan pikiran sendiri.
Yesus yang kita kenal seringkali hanyalah "Yesus" yang selalu setuju dengan keinginan kita. Ia adalah Yesus yang bertugas memberkati bisnis kita. Ia adalah Yesus yang menjamin kesehatan dan kekayaan kita. Jika itu yang terjadi, kita sebenarnya tidak sedang menyembah Yesus. Kita sedang menyembah ambisi kita yang kita beri label "Yesus".
Menyingkap Kabut Motivasi
Mengapa kita sulit mengenal Yesus secara benar? Karena kita sering datang kepada-Nya membawa agenda. Kita tidak ingin mendengar apa yang Ia katakan. Kita hanya ingin Ia melakukan apa yang kita mau.
Mata dan hati kita terhalangi oleh kepentingan pribadi, menggunakan agama sebagai alat untuk mencari pengakuan. Pelayanan untuk mendapatkan status sosial. Di dalam gereja, sering berebut kuasa, menjadi yang paling dominan di dalam persekutuan.
Ketika motivasi kita adalah diri sendiri, Yesus akan selalu tersembunyi. Kita mungkin merasa paling setia. Kita mungkin merasa paling layak menjadi kesayangan Tuhan. Padahal, kita sedang berjalan ke arah yang salah. Kita menjauh dari Yerusalem, menjauh dari salib, menuju Emaus yang penuh kekecewaan.
Membiarkan Yesus Menjadi Yesus
Mengenal Yesus berarti membiarkan Dia mendefinisikan diri-Nya sendiri, melepaskan seluruh proyeksi dan harapan pribadi. Belajar mendengarkan tanpa menyaring, berani melihat Yesus yang menderita dan melayani.
Yesus bukan pelayan bagi ambisi manusia. Ia adalah Tuhan atas seluruh hidup. Mengenal-Nya menuntut kerelaan untuk melepaskan kendali. Itu berarti, siap jika rencana-Nya berbeda dengan rencana kita. Itu berarti, tetap setia meski yang didapatkan tidak sesuai yang diharapkan.
Dalam perjalanan ke Emaus, Yesus akhirnya dikenal saat Ia memecah-mecahkan roti. Itu adalah simbol dari tubuh-Nya yang hancur bagi dunia. Pengenalan akan Yesus yang sejati muncul ketika memahami makna pengorbanan-Nya.
Jangan puas hanya dengan merasa dekat. Jangan bangga hanya karena berada di lingkungan gereja. Periksalah kembali motivasi terdalam di hati Anda. Apakah Anda mengenal Yesus karena Ia adalah Tuhan? Ataukah Anda hanya menyukai manfaat yang mungkin Ia berikan?
Jangan sampai berjalan tujuh mil bersama-sama, namun tetap tidak saling mengenal. Jangan sampai kita mati di dalam gereja tanpa pernah benar-benar berjumpa dengan Sang Pemilik Gereja.
Biarkan Yesus berbicara sesuai dengan kebenaran-Nya. Hanya dengan demikian, hatiakan berkobar-kobar kembali. Hanya dengan demikian, kita bisa berkata dengan jujur: "Kami telah melihat Tuhan."
Penutup
Perjalanan ke Emaus adalah perjalanan iman setiap orang. Kita berjalan, kita berbicara, kita menafsir. Namun seringkali justru tidak mengenal Yesus yang hadir di samping kita. Mata kita tertutup oleh ambisi, oleh harapan pribadi, oleh proyeksi kebutuhan.
Namun ketika firman dibuka, hati kita terbakar. Ketika roti dipecah, mata kita terbuka. Ketika kasih dibagikan, hidup kita berubah.
Dekat tidak berarti kenal. Kenal tidak berarti dekat. Tetapi ketika kita sungguh mengenal Yesus, kedekatan itu menjadi nyata. Pengenalan itu menjadi hidup. Perjalanan itu menjadi perjumpaan.
Yesus dikenal bukan karena ambisi, bukan karena jabatan, bukan karena ritual. Yesus dikenal karena kasih, pengorbanan, kebenaran, dan hidup yang baru.




